Belajar dari kehidupan keras berkereta

Setelah kurang lebih 1 setengah tahun menggunakan jasa angkutan umum kereta rel listrik  (KRL) / commuter line, saya sudah cukup terbiasa dengan adanya kejadian-kejadian tidak terduga seperti yang terjadi kemarin sore.

Rabu, 6 April 2016 merupakan hari terakhir UTS dan mata kuliah yang diujikan cukup sulit sehingga banyak mahasiswa yang telah mengikuti rangkaian UTS merasa lelah baik secara fisik maupun mental. Saya dan teman saya yang menempuh perjalanan sama pada awalnya ingin beraktivitas dengan teman-teman lain terlebih dahulu dan pulang pk19.00 padahal kami sebenarnya sudah bisa pulang pk15.30. Waktu menunjukkan pk16.00 saat saya mendengar kabar ada KRL anjlok di arah perjalanan pulang kami. Saya akan menjelaskan mengenai hal tersebut. Di bawah adalah peta rute commuter line:

Peta Rute KRL - Jarak Stasiun 2015 PERUBAHAN

Sumber: http://www.krl.co.id, dengan perubahan

Perjalanan pulang kami berawal di Stasiun Universitas Indonesia (Manggarai-Bogor) dan berakhir di Stasiun Rawa Buaya (Duri-Tangerang). Kami biasa menaiki KRL jurusan Tanah Abang Jatinegara (line berwarna kuning) dan transit di Stasiun Duri dan melanjutkan perjalanan hingga Stasiun Rawa Buaya (line berwarna coklat). Kereta api yang anjlok ada di antara Stasiun Manggarai dan Stasiun Sudirman.

Stasiun Manggarai adalah stasiun yang besar dan merupakan pertemuan dari 3 rute KRL (Jakarta Kota – Bekasi, Jakarta Kota – Bogor, dan Jatinegara – Bogor), di Stasiun Manggarai ada 7 jalur yang biasa dipakai untuk perjalanan KRL. KRL yang anjlok adalah kereta feeder yang berjalan hanya dari Stasiun Manggarai – Duri. Kereta tersebut biasanya berada di jalur 2 dan harus berganti ke jalur 5 (karena jalur 1 – 4 mengarah ke Stasiun Cikini, Jakarta Kota). Setelah saya melihat berita, ternyata gerbong terakhir dari KRL tersebut anjlok saat berganti jalur. Akibatnya jalur-jalur lain pun tertutup dan lalu lintas ke arah Jakarta Kota pun ikut terganggu.

Saya belum mengetahui hal tersebut, hanya tau bahwa ada kereta anjlok di antara Stasiun Manggarai dan Stasiun Sudirman. Kami langsung berjalan pulang karena tau pasti terkena imbasnya. Saat kami sampai di Stasiun UI, kami melihat KRL yang berada di jalur kami, namun ternyata KRL tersebut akan balik ke arah Bogor maka kami tidak menaikinya. Kami pun merasa panik karena takut tidak dapat pulang, namun ternyata masih ada KRL selanjutnya yang mengarah ke Manggarai. Kami berencana untuk berhenti di Stasiun Cawang dan melanjutkan dengan TransJakarta hingga Halte Latumenten/Stasiun Grogol dan melanjutkan dengan KRL kembali sampai Stasiun Rawa Buaya. Saya sudah cukup sering menempuh rute tersebut, namun kemarin merupakan yang pertama kalinya bagi teman saya menempuh rute tersebut.

Akhirnya kami naik KRL pk16.30 dari Stasiun UI dan KRL tersebut berjalan dengan sangat lambat. Kami sering terhenti dalam perjalanan dan sempat berganti kereta di Stasiun Pasar Minggu. Orang-orang yang berada di kereta yang sama sudah mulai gerah dan mengeluh. Hal tersebut terjadi karena operator meminta kami untuk pindah kereta 3 kali di Stasiun tersebut, tentu saja kami semua berganti kereta karena ingin cepat pulang.

Kami bertemu dengan seorang ibu yang juga mengarah dekat tempat tujuan kami (ibu tersebut biasa berhenti di Stasiun Taman Kota). Pada akhirnya, ia ingin ikut kami naik TransJakarta karena tau akan jauh lebih lama apabila ia melanjutkan naik KRL. Kami tiba di Stasiun Cawang. Perjalanan dari Stasiun UI ke Stasiun Cawang memakan waktu 2 jam, biasanya hanya sekitar 20 menit.

Kami keluar dari KRL dan menuju Halte Cawang. Saya dan teman saya harus menaiki TransJakarta jurusan Pluit karena Halte Latumenten (Stasiun Grogol) ada di jurusan tersebut. Datanglah TJ jurusan Grogol, ibu yang bersama kami menaiki TJ tersebut karena ia akan berganti bus di Grogol. Kami menaiki TJ setelah itu dengan jurusan Pluit. Bersyukur karena bus tersebut dingin tidak terlalu penuh meski kami tidak dapat duduk. Ada saat kami dapat duduk, kami berbagi satu tempat duduk prioritas di bagian depan bus. Teman saya melihat ada ibu yang ingin duduk dan teman saya ingin berdiri, namun saya agak memaksanya untuk tetap duduk karena saya tau dia lelah dan saya pun lelah. Kami berdiri lagi saat kami melihat ada ibu hamil yang masuk bus. Perjalanan dari Halte Cawang sampai Halte Latumenten sangat lancar dan memakan waktu 45 menit, kami duduk dua kali selama perjalanan. Kami turun di Halte Latumenten dan berjalan menuju Stasiun Grogol. Sesampainya disana kaki kami sudah tegang dan perut kami sakit karena lapar dan kebetulan kami berdua sedang datang bulan. Kami pun duduk pada senderan tiang stasiun.

KRL Grogol - liputan 6 PERUBAHAN

Sumber: http://www.liputan6.com, dengan perubahan

KRL belum tersedia di Stasiun Duri. Kami menunggu di peron KRL yang mengarah ke Duri dengan pikiran ingin dapat duduk apabila penumpang turun di Stasiun Duri. Saat sampai di Stasiun Duri, kami melihat ada KRL yang datang dari arah Manggarai. KRL tersebut sangat penuh dan banyak sekali yang turun di Stasiun Duri. Penumpang dari KRL tersebut mulai masuk KRL kami dan kami melihat mereka sangat basah karena keringat. Kami pun sadar bahwa kami jauh lebih beruntung daripada orang-orang yang harus berdesakan tersebut. Kami sangat tau bahwa penumpang dari Stasiun Sudirman sangat banyak dalam waktu tersebut karena banyak yang baru pulang bekerja. Pada hari biasa sangatlah padat, apalagi hari ini saat penumpang menumpuk dan jumlah KRL sedikit. Kami pun memutuskan untuk berdiri.

Ada penumpang lain yang baru masuk dan berkata “akhirnya ada angin“, penumpang lainnya pun berkata “seram banget tadi udah miring-miring keretanya, apalagi sebelum sampai Tanah Abang, ampun seseknya“, “iya bahkan tadi orang di deket aku ada yang udah hampir pingsan.” Saya dan teman saya hanya bisa saling lihat dan bersyukur akan perjalanan kami yang aman dengan TJ. Kami sangat mengerti bahwa KRL tersebut jauh lebih penuh sebelum sampai Stasiun Tanah Abang karena Stasiun Tanah Abang juga merupakan stasiun transit yang besar, banyak penumpang yang turun untuk berganti KRL ke arah Serpong.

Sesampainya di Stasiun Rawa Buaya, seperti biasa kami mengantri untuk keluar. Hanya saja antrian hari ini jauh lebih panjang dibanding biasanya meski waktu telah menunjukkan pk20.30. Petugas memeriksa ke antrian apabila ada ibu hamil ataupun orang-orang yang sudah tidak kuat. Ia balik dengan menggotong seorang ibu yang hampir pingsan dan mereka menyiapkan kursi roda untuk ibu tersebut.

Waktu perjalanan saya dan teman saya tempuh 4 jam atau 4 jam setengah sampai ke rumah masing-masing. Kami sangat bersyukur karena kami masih dapat sampai di rumah kami masing-masing dengan selamat.

Belajar banyak dari kehidupan yang keras di kota dimana kami harus berkompetisi untuk mendapatkan resource. Hal tersebut adalah salah satu alasan saya tetap menyukai transportasi umum dan pulang-pergi meski kampus saya jauh (kira-kira 1,5 jam perjalanan). Kami pun semakin tahan banting dan kreatif mencari solusi alternatif dengan mengalami kejadian-kejadian seperti ini. Hal yang penting pula untuk saya adalah pembelajaran saya tentang manusia yang membuat saya dapat melihat dari banyak sudut pandang dan melatih saya untuk berempati. Dengan demikian, saya benar-benar merasa sangat diberkati meski susah dan hal tersebut mendorong saya untuk menjadi berkat pula bagi orang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s